Kamis, 06 November 2014

Pendakian “yang sebenarnya” yang Kedua
Oleh: Laily Yuliati

Tanggal 1 Oktober 2014, tiba-tiba ada seorang teman lama yang bbm aku “Tgl 10-10 ameh  ng-Lawu. Melu ra?” dan langsung aku bales tanpa pikir panjang “Meluuuu”. Ajakan ini sebenarnya bukan ajakan yang pertama, tapi ajakan yang kedua setelah sebelumnya dia mengajak ke Gunung Merbabu. Karena dulu aku nggak bisa ikut, makanya kali ini aku usahakan untuk ikut. Dan karena emang lagi pengen setelah pusing KKN-PPL.
Rabu 8 Oktober 2014, temenku nanya lagi memastikan aku jadi ikut apa enggak. Dan aku pun sudah mantap untuk ikut. Jadilah semenjak itu aku mempersiapkan barang-barang yang harus aku bawa. Tapi aku males persiapan fisik waktu itu hehe.
Jumat 10 Oktober 2014, hari keberangkatan tiba. Rencana kumpul di KPLT FT UNY setelah Sholat Jumat. Paginya aku masih sempet kuliah lho. Jam 12.30, aku sholat Dzuhur di kost Ertin (teman KKN-PPL) kemudian nitip motor di kost Diah. Jam 13.30 mas Andi udah jemput aku di kost Diah dan kita segera meluncur ke KPLT. Di sana belum ada tanda-tanda keberadaan temanku. Beberapa menit kemudian, temenku sms kalo udah di pintu keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, rombongan juga sudah lengkap 9 orang (aku, mas Andi, Marhatta, Anjar, Aji, Indra, Dika, Bagus dan Yogi), akhirnya kami segera berangkat.
Di jalan, kami mengisi bensin terlebih dahulu supaya dalam perjalanan nanti kami tidak kehabisan bensin. Sampai daerah Prambanan kami menunggu 2 orang teman lagi yaitu Baruna dan Susi. Alhasil rombongan menjadi 11 orang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Magetan (basecamp Cemoro Sewu).
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30, kami mampir sebentar di masjid pinggir jalan untuk Sholat Ashar dan beristirahat sejenak. Setelah Sholat dan istirahat, kami segera melanjutkan perjalanan lagi karena hari semakin sore. Pukul 18.00, sampailah kami di basecamp Cemoro Sewu. Kemudian kami menitipkan motor dan Sholat.
Pukul 19.30, rombongan kami siap mendaki Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Kami memutuskan lewat jalur itu karena lebih cepat dibandingkan lewat Cemoro Kandang. Sebelum berangkat, tentunya kami berdoa terlebih dahulu agar diberi kesehatan dan keselamatan. Setelah berdoa, kami ber-11 berangkat.
Pendakian dimulai. Pendakian kali ini berbeda dari pendakian sebelumnya, karena pendakian ini dilakukan malam hari. Tak ada lampu di gunung. Kami semua menggunakan senter untuk menerangi jalan kami. Sebenarnya malam tak begitu gelap. Ada banyak bintang di langit dan bulan yang bersinar terang.
Jalanan berupa bebatuan yang ditata seperti tangga. Kami berjalan santai dan sangat berhati-hati agar tak terjatuh. Di tengah-tengah perjalanan kami sesekali “break” agar kami tak terlalu lelah sehingga bisa sampai ke puncak. Di perjalanan, aku lebih suka diam, karena menurutku itu lebih menghemat tenagaku untuk terua berjalan. Aku hanya mendengarkan teman-teman yang lain berbincang sambil bercanda dan sesekali ikut tertawa.
Sampai Pos I, sekitar 1 jam perjalanan. Di pos I kami tak beristirahat lama-lama. Kami melanjutkan perjalanan lagi. 1,5 jam kemudian kami sampai di Pos II. Agak lama beritirahat di Pos II, kami minum dan ada juga yang makan roti. Lanjut lagi berjalan menuju Pos III. Tiba-tiba salah satu teman kami, Dika, mengalami kram kaki. Segera kaki Dika dioles balsem dan melakukan sterching.
Kami memutuskan untuk nge-camp di Pos III supaya Dika dapat beristirahat lebih lama. 4 orang naik terlebih dahulu untuk mencari tempat mendirikan tenda. Sedangkan yang lainnya berjalan pelan menuju Pos III. Kami sampai di Pos III sekitar pukul 23.30 atau sekitar 1,5 jam perjalanan dari Pos II. Para cowok mulai mendirikan 3 tenda dan cewek-cewek duduk saja hehe.
Tenda sudah siap dihuni. Kami masuk ke tenda masing-masing. Setelah itu, masih ada yang bikin minuman hangat, ada yang bikin makanan, dan aku memilih untuk tidur saja. Aku tidur bertiga sama Anjar dan Susi, karena memang yang cewek cuma 3 orang. Rencana kami akan bangun jam 4 pagi agar bisa melihat sunrise di puncak. Tapi rasanya aku tak sanggup untuk berjalan sepagi itu mengingat hawa dingin yang amat sangat menusuk tulang. Malam itu saja rasanya tubuhku akan membeku. Gunung Lawu lebih dingin dari Gunung Merbabu meskipun di Gunung Lawu tidak hujan dan badai.
Pukul 4 pagi, semua alarm berbunyi. Kami terbangun, tetapi masih enggan membuka SB bahkan tenda. Kami tidur lagi sampai kira-kira pukul 6 pagi. Setelah udara tak begitu dingin, aku Susi dan Anjar pipis kemudian wudhu dengan air es dan segera Sholat Subuh? Haha. Selesai Sholat, kami makan dan packing untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Semua siap dan tenda segera dibongkar.
Sekitar pukul 7.30 pagi, kami memulai perjalanan lagi menuju puncak. Di jalan, kami sering “break”, mungkin sudah lelah berjalan sampai Pos III. 6 orang dari kami, aku, mas Andi, Marhatta, Bagus, Indra, dan Yogi berjalan lebih cepat dari 5 lainnya, Baruna, Anjar, Aji, Dika dan Susi. Tak butuh waktu lama sampai di Pos IV, mungkin 30 menit. Kami ber-6 menunggu teman-teman kami agak lama di Pos IV, tetapi kami memutuskan melanjutkan perjalanan lagi mengingat tak ada tempat luas untuk beristirahat.
OTW Pos IV
Pos IV
15 menit setelah Pos IV, kami “break” lagi agak lama. Kali ini kami duduk-duduk sambil melihat pemandangan di bawah gunung. Kami juga minum dan makan camilan di sana. Luamayan lama kami beristirahat di sana dan 5 orang teman kami tak juga nampak. Kami ber-6 memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi mengingat hari semakin siang dan panas semakin menyengat.
Istirahat dulu yaah :)

Pos IV menuju Pos V
Pos IV menuju Pos V
Sampai di Pos V sekitar pukul 9 pagi. Di Pos V, kami tak bersistirahat. Kami sangat berambisi untuk segera sampai ke puncak. Lalu kami pun bergegas menuju puncak. Kami tak mampir dulu ke warung Mbok Yem tetapi langsung mengambil jalan ke puncak.
Jalan menuju Puncak Hargo Dumilah
Pukul 9.30, sampailah kami di Hargo Dumilah, Puncak Lawu 3265 mdpl. Akhirnya sampai puncak, Alhamdulillah. Seneng, lega, dan tak percaya rasanya bisa sampai ke puncak. Sampai di puncak, aku terdiam, menikmati indahnya pemandangan, menikmati sejuknya angin, menikmati indahnya ciptaan-Nya. Kemudian, tentu saja kami berfoto-foto, tujuan utama kedua setelah puncak haha.
kami lelah
Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 mdpl
So Beautiful :)
Di puncak, selain berfoto-foto kami juga makan camilan, minum, dan tidur-tiduran. Kemudian kami tersadar bahwa persediaan minum kami semakin menipis. Kami mengumpulkan minuman kami menjadi satu. Bahkan minum sisa orang pun kami ambil juga haha kasian banget nggak sih???
kami butuh minum :(
Matahari semakin meninggi dan panas semakin menyengat. Satu jam sudah kami di puncak, tetapi belum ada tanda-tanda 5 orang teman kami sampai ke puncak juga. Akhirnya kami memutuskan untuk turun, siapa tahu kami bertemu di bawah. Sampai di Pos V, kami bertemu dengan Gancala (mapala MIPA) dan ada teman Susi. Kami bertanya sama mereka, katanya baru aja ketemu 5 teman kami, tapi nggak tahu ke puncak atau balik turun. Kami istirahat sebentar di Pos V dan mengisi botol minum kami dengan air dari sendang drajad.
Tak berlama-lama, kami melanjutkan perjalanan turun. Sebelum sampai Pos IV, kami memutuskan istirahat agak lama untuk makan. Bekal mie instant yang kami bawa masih cukup untuk makan 6 orang. Kami memasak mie dan air dengan air dari sendang drajad. Setelah kami semua makan, kami Sholat Dzuhur karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang. Kami bertayamum karena memang tak ada air lagi untuk berwudhu.
Jangan Lupa Sholat!
Setelah makan dan sholat, kami melanjutkan perjalanan turun lagi. Di jalan, kami sering bertemu dengan pedagang yang akan berdagang di Pos V. Kebetulan saat itu hari Sabtu, di Gunung Lawu hari Sabtu dan Minggu selalu ada banyak pedagang yang berjualan di atas. Ada yang berjualan makanan, ada juga yang berjualan minuman. Para pedagang itu membawa semua barang dagangan seperti air, telur, dan beras dengan cara dipikul dari bawah ke atas. Tak hanya bapak-bapak yang membawa semua barang dagangannya, namun ada juga ibu-ibu hebat yang kuat membawa barang dagangan mereka sampai ke atas. Bahkan mereka sempat bercanda dengan kami, “Sini mas tukeran, masnya bawa karung (baca: beras sekarung) saya bawa tas masnya, lima juga kuat mas.”
Pedagang
Perjalanan turun terasa lebih ringan bagiku daripada perjalanan naik. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di Pos III dengan break sesekali. Dari Pos III ke Pos II waktu yang kami butuhkan juga cukup cepat, hanya 30 menit. Tapi dari Pos II ke Pos I perjalanan lumayan lama, sekitar 1 jam. Dari Pos I ke basecamp juga lumayan lama, 1 jam. Di perjalanan turun, kami lebih sering berhenti untuk bersitirahat sambil menunggu 5 orang teman kami yang lain. Pukul 16.30, kami sampai di pintu keluar. Kami istirahat lagi lumayan lama di sana. Kemudian kami lapor ke petugas bahwa rombongan kami masih kurang 5 orang. Ternyata mereka memang belum turun. Kemungkinan terbesar adalah mereka mampir dulu ke warung Mbok Yem.
Kami segera menuju basecamp tempat kami menitipkan sepeda motor. Kami membersihkan diri dan Sholat Ashar. Kami menunggu teman kami lagi di basecamp sambil menunggu Maghrib. Waktu Sholat Maghrib pun tiba, kami bergegas Sholat dan lanjut makan. Kami makan di warung terdekat. Kami pesan 6 nasi goreng dan 6 teh panas.
Selamat makan :)
Makanan dan minuman sudah habis, perut kami kenyang dan kami pun mengantuk. Sambil menunggu 5 teman kami, kami tidur-tiduran di warung makan. Rencana kami menunggu sampai jam 9, kalau sampai jam 9 belum sampai juga, kami akan melapor ke petugas. Jujur saja saat itu kami sangat khawatir terjadi apa-apa sama mereka, mengingat Dika semalam kram kaki. Selain itu, ada 2 cewek yang baru pertama kali naik gunung.
Kekhawatiran kami terjawab sudah pukul 20.30 setelah Baruna menelepon Marhatta. Mereka sudah sampai di basecamp, Alhamdulillah. Bagus segera berlari menuju basecamp untuk menghampiri mereka ber-5. Kemudian semua motor diambil dan dibawa ke warung. Setelah mereka berlima istirahat makan dan minum, kami segera pulang ke Jogja karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.30.
Dingin, capek, dan mengantuk yang kurasakan. Di jalan aku sering tertidur. Pantat pun rasanya kram sekali. Di setiap lampu merah aku pun mencoba berdiri agar agak enakan. 3 jam perjalanan pulang. Pukul 00.30 sampai di kost Diah dan aku segera istirahat. Alhamdulillah. Sampai jumpa lagi Gunung Lawu.
Sampai Jumpa Lawu :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar