Pendakian “yang sebenarnya” yang Kedua
Oleh: Laily Yuliati
Tanggal 1 Oktober 2014,
tiba-tiba ada seorang teman lama yang bbm aku “Tgl 10-10 ameh ng-Lawu. Melu ra?” dan langsung aku bales
tanpa pikir panjang “Meluuuu”. Ajakan ini sebenarnya bukan ajakan yang pertama,
tapi ajakan yang kedua setelah sebelumnya dia mengajak ke Gunung Merbabu.
Karena dulu aku nggak bisa ikut, makanya kali ini aku usahakan untuk ikut. Dan
karena emang lagi pengen setelah pusing KKN-PPL.
Rabu 8 Oktober 2014, temenku
nanya lagi memastikan aku jadi ikut apa enggak. Dan aku pun sudah mantap untuk
ikut. Jadilah semenjak itu aku mempersiapkan barang-barang yang harus aku bawa.
Tapi aku males persiapan fisik waktu itu hehe.
Jumat 10 Oktober 2014, hari
keberangkatan tiba. Rencana kumpul di KPLT FT UNY setelah Sholat Jumat. Paginya
aku masih sempet kuliah lho. Jam 12.30, aku sholat Dzuhur di kost Ertin (teman
KKN-PPL) kemudian nitip motor di kost Diah. Jam 13.30 mas Andi udah jemput aku
di kost Diah dan kita segera meluncur ke KPLT. Di sana belum ada tanda-tanda
keberadaan temanku. Beberapa menit kemudian, temenku sms kalo udah di pintu
keluar. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.30, rombongan juga sudah lengkap 9
orang (aku, mas Andi, Marhatta, Anjar, Aji, Indra, Dika, Bagus dan Yogi), akhirnya
kami segera berangkat.
Di jalan, kami mengisi bensin
terlebih dahulu supaya dalam perjalanan nanti kami tidak kehabisan bensin.
Sampai daerah Prambanan kami menunggu 2 orang teman lagi yaitu Baruna dan Susi.
Alhasil rombongan menjadi 11 orang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju
Magetan (basecamp Cemoro Sewu).
Waktu sudah menunjukkan pukul
16.30, kami mampir sebentar di masjid pinggir jalan untuk Sholat Ashar dan
beristirahat sejenak. Setelah Sholat dan istirahat, kami segera melanjutkan
perjalanan lagi karena hari semakin sore. Pukul 18.00, sampailah kami di
basecamp Cemoro Sewu. Kemudian kami menitipkan motor dan Sholat.
Pukul 19.30, rombongan kami siap
mendaki Gunung Lawu via Cemoro Sewu. Kami memutuskan lewat jalur itu karena
lebih cepat dibandingkan lewat Cemoro Kandang. Sebelum berangkat, tentunya kami
berdoa terlebih dahulu agar diberi kesehatan dan keselamatan. Setelah berdoa,
kami ber-11 berangkat.
Pendakian dimulai. Pendakian
kali ini berbeda dari pendakian sebelumnya, karena pendakian ini dilakukan
malam hari. Tak ada lampu di gunung. Kami semua menggunakan senter untuk
menerangi jalan kami. Sebenarnya malam tak begitu gelap. Ada banyak bintang di
langit dan bulan yang bersinar terang.
Jalanan berupa bebatuan yang
ditata seperti tangga. Kami berjalan santai dan sangat berhati-hati agar tak
terjatuh. Di tengah-tengah perjalanan kami sesekali “break” agar kami tak
terlalu lelah sehingga bisa sampai ke puncak. Di perjalanan, aku lebih suka
diam, karena menurutku itu lebih menghemat tenagaku untuk terua berjalan. Aku
hanya mendengarkan teman-teman yang lain berbincang sambil bercanda dan
sesekali ikut tertawa.
Sampai Pos I, sekitar 1 jam
perjalanan. Di pos I kami tak beristirahat lama-lama. Kami melanjutkan
perjalanan lagi. 1,5 jam kemudian kami sampai di Pos II. Agak lama beritirahat
di Pos II, kami minum dan ada juga yang makan roti. Lanjut lagi berjalan menuju
Pos III. Tiba-tiba salah satu teman kami, Dika, mengalami kram kaki. Segera
kaki Dika dioles balsem dan melakukan sterching.
Kami memutuskan untuk nge-camp
di Pos III supaya Dika dapat beristirahat lebih lama. 4 orang naik terlebih
dahulu untuk mencari tempat mendirikan tenda. Sedangkan yang lainnya berjalan
pelan menuju Pos III. Kami sampai di Pos III sekitar pukul 23.30 atau sekitar
1,5 jam perjalanan dari Pos II. Para cowok mulai mendirikan 3 tenda dan
cewek-cewek duduk saja hehe.
Tenda sudah siap dihuni. Kami
masuk ke tenda masing-masing. Setelah itu, masih ada yang bikin minuman hangat,
ada yang bikin makanan, dan aku memilih untuk tidur saja. Aku tidur bertiga
sama Anjar dan Susi, karena memang yang cewek cuma 3 orang. Rencana kami akan
bangun jam 4 pagi agar bisa melihat sunrise di puncak. Tapi rasanya aku tak
sanggup untuk berjalan sepagi itu mengingat hawa dingin yang amat sangat
menusuk tulang. Malam itu saja rasanya tubuhku akan membeku. Gunung Lawu lebih
dingin dari Gunung Merbabu meskipun di Gunung Lawu tidak hujan dan badai.
Pukul 4 pagi, semua alarm
berbunyi. Kami terbangun, tetapi masih enggan membuka SB bahkan tenda. Kami
tidur lagi sampai kira-kira pukul 6 pagi. Setelah udara tak begitu dingin, aku
Susi dan Anjar pipis kemudian wudhu dengan air es dan segera Sholat Subuh?
Haha. Selesai Sholat, kami makan dan packing untuk melanjutkan perjalanan ke
puncak. Semua siap dan tenda segera dibongkar.
Sekitar pukul 7.30 pagi, kami
memulai perjalanan lagi menuju puncak. Di jalan, kami sering “break”, mungkin
sudah lelah berjalan sampai Pos III. 6 orang dari kami, aku, mas Andi,
Marhatta, Bagus, Indra, dan Yogi berjalan lebih cepat dari 5 lainnya, Baruna,
Anjar, Aji, Dika dan Susi. Tak butuh waktu lama sampai di Pos IV, mungkin 30
menit. Kami ber-6 menunggu teman-teman kami agak lama di Pos IV, tetapi kami
memutuskan melanjutkan perjalanan lagi mengingat tak ada tempat luas untuk
beristirahat.
![]() |
| OTW Pos IV |
| Pos IV |
15 menit setelah Pos IV, kami
“break” lagi agak lama. Kali ini kami duduk-duduk sambil melihat pemandangan di
bawah gunung. Kami juga minum dan makan camilan di sana. Luamayan lama kami
beristirahat di sana dan 5 orang teman kami tak juga nampak. Kami ber-6
memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi mengingat hari semakin siang dan
panas semakin menyengat.
![]() |
| Istirahat dulu yaah :) |
| ||
| Pos IV menuju Pos V |
Sampai di Pos V sekitar pukul 9
pagi. Di Pos V, kami tak bersistirahat. Kami sangat berambisi untuk segera
sampai ke puncak. Lalu kami pun bergegas menuju puncak. Kami tak mampir dulu ke
warung Mbok Yem tetapi langsung mengambil jalan ke puncak.
![]() |
| Jalan menuju Puncak Hargo Dumilah |
Pukul 9.30, sampailah kami di
Hargo Dumilah, Puncak Lawu 3265 mdpl. Akhirnya sampai puncak, Alhamdulillah.
Seneng, lega, dan tak percaya rasanya bisa sampai ke puncak. Sampai di puncak,
aku terdiam, menikmati indahnya pemandangan, menikmati sejuknya angin,
menikmati indahnya ciptaan-Nya. Kemudian, tentu saja kami berfoto-foto, tujuan
utama kedua setelah puncak haha.
| kami lelah |
| Puncak Lawu Hargo Dumilah 3265 mdpl |
| So Beautiful :) |
Di puncak, selain berfoto-foto
kami juga makan camilan, minum, dan tidur-tiduran. Kemudian kami tersadar bahwa
persediaan minum kami semakin menipis. Kami mengumpulkan minuman kami menjadi
satu. Bahkan minum sisa orang pun kami ambil juga haha kasian banget nggak
sih???
| kami butuh minum :( |
Matahari semakin meninggi dan
panas semakin menyengat. Satu jam sudah kami di puncak, tetapi belum ada
tanda-tanda 5 orang teman kami sampai ke puncak juga. Akhirnya kami memutuskan
untuk turun, siapa tahu kami bertemu di bawah. Sampai di Pos V, kami bertemu
dengan Gancala (mapala MIPA) dan ada teman Susi. Kami bertanya sama mereka,
katanya baru aja ketemu 5 teman kami, tapi nggak tahu ke puncak atau balik
turun. Kami istirahat sebentar di Pos V dan mengisi botol minum kami dengan air
dari sendang drajad.
Tak berlama-lama, kami
melanjutkan perjalanan turun. Sebelum sampai Pos IV, kami memutuskan istirahat
agak lama untuk makan. Bekal mie instant yang kami bawa masih cukup untuk makan
6 orang. Kami memasak mie dan air dengan air dari sendang drajad. Setelah kami
semua makan, kami Sholat Dzuhur karena waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Kami bertayamum karena memang tak ada air lagi untuk berwudhu.
| Jangan Lupa Sholat! |
Setelah makan dan sholat, kami
melanjutkan perjalanan turun lagi. Di jalan, kami sering bertemu dengan
pedagang yang akan berdagang di Pos V. Kebetulan saat itu hari Sabtu, di Gunung
Lawu hari Sabtu dan Minggu selalu ada banyak pedagang yang berjualan di atas. Ada
yang berjualan makanan, ada juga yang berjualan minuman. Para pedagang itu
membawa semua barang dagangan seperti air, telur, dan beras dengan cara dipikul
dari bawah ke atas. Tak hanya bapak-bapak yang membawa semua barang dagangannya,
namun ada juga ibu-ibu hebat yang kuat membawa barang dagangan mereka sampai ke
atas. Bahkan mereka sempat bercanda dengan kami, “Sini mas tukeran, masnya bawa
karung (baca: beras sekarung) saya bawa tas masnya, lima juga kuat mas.”
| Pedagang |
Perjalanan turun terasa lebih
ringan bagiku daripada perjalanan naik. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai
di Pos III dengan break sesekali. Dari Pos III ke Pos II waktu yang kami
butuhkan juga cukup cepat, hanya 30 menit. Tapi dari Pos II ke Pos I perjalanan
lumayan lama, sekitar 1 jam. Dari Pos I ke basecamp juga lumayan lama, 1 jam.
Di perjalanan turun, kami lebih sering berhenti untuk bersitirahat sambil
menunggu 5 orang teman kami yang lain. Pukul 16.30, kami sampai di pintu
keluar. Kami istirahat lagi lumayan lama di sana. Kemudian kami lapor ke
petugas bahwa rombongan kami masih kurang 5 orang. Ternyata mereka memang belum
turun. Kemungkinan terbesar adalah mereka mampir dulu ke warung Mbok Yem.
Kami segera menuju basecamp
tempat kami menitipkan sepeda motor. Kami membersihkan diri dan Sholat Ashar.
Kami menunggu teman kami lagi di basecamp sambil menunggu Maghrib. Waktu Sholat
Maghrib pun tiba, kami bergegas Sholat dan lanjut makan. Kami makan di warung
terdekat. Kami pesan 6 nasi goreng dan 6 teh panas.
| Selamat makan :) |
Makanan dan minuman sudah habis,
perut kami kenyang dan kami pun mengantuk. Sambil menunggu 5 teman kami, kami
tidur-tiduran di warung makan. Rencana kami menunggu sampai jam 9, kalau sampai
jam 9 belum sampai juga, kami akan melapor ke petugas. Jujur saja saat itu kami
sangat khawatir terjadi apa-apa sama mereka, mengingat Dika semalam kram kaki.
Selain itu, ada 2 cewek yang baru pertama kali naik gunung.
Kekhawatiran kami terjawab sudah
pukul 20.30 setelah Baruna menelepon Marhatta. Mereka sudah sampai di basecamp,
Alhamdulillah. Bagus segera berlari menuju basecamp untuk menghampiri mereka
ber-5. Kemudian semua motor diambil dan dibawa ke warung. Setelah mereka
berlima istirahat makan dan minum, kami segera pulang ke Jogja karena waktu
sudah menunjukkan pukul 21.30.
Dingin, capek, dan mengantuk
yang kurasakan. Di jalan aku sering tertidur. Pantat pun rasanya kram sekali.
Di setiap lampu merah aku pun mencoba berdiri agar agak enakan. 3 jam
perjalanan pulang. Pukul 00.30 sampai di kost Diah dan aku segera istirahat.
Alhamdulillah. Sampai jumpa lagi Gunung Lawu.
| Sampai Jumpa Lawu :) |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar