Senin, 06 Oktober 2014

CINTA PADA PENDAKIAN PERTAMA
Oleh: Laily Yuliati

Jumat, 28 Maret 2014, Sekitar pukul 3 sore aku sudah bersiap dengan tas carier pinjaman lengkap dengan semua keperluanku. Aku pamit dengan ibuku, ibuku pun kaget. Tetapi ibuku tetap mengijinkan aku berangkat. Aku pun berangkat. Setelah menitipkan motor di kost Diah, aku dijemput oleh Acun. Kemudian, aku menuju Mushola GOR UNY. Di sana sudah ada 3 orang yang sama sekali tak ku kenal. Saat itu, perasaanku benar-benar susah dijelaskan.
Setengah jam kemudian, datang lagi orang-orang yang lain yang sama halnya tak ku kenal. Dan tiba-tiba ada salah seorang yang bertanya padaku (lupa) “temennya Nafi ya?” aku jawab “iya”. Perasaanku sedikit lega, ternyata mereka adalah calon temanku dalam perjalanan nanti. Kemudian, aku memberanikan diri berkenalan dengan mereka, Diki, Rizky, Azum, Dian, dan Aan hehe. Ehm, sepertinya mereka baik :).
Waktu menunjukkan pukul 5 sore, Arga (Nafi) datang bersama seorang teman lagi, Agung. Dan yang terakhir datang adalah satu cowok dan satu cewek, Dody dan Avia berboncengan menggunakan motor matic. Lengkap 10 orang sudah kita di sana. Dan katanya, sudah tak menunggu siapa-siapa lagi.
Sebelum perjalanan dimulai, kami bersepuluh, eh bersebelas dengan Acun berdoa bersama agar selamat sampai tujuan. Dan kami pun siap untuk berangkat mengingat hari semakin sore dan cuaca tak bersahabat. Acun tidak ikut dalam perjalanan itu, karena dia ada urusan di UKM. Alhasil aku berangkat sendiri dengan 9 orang yang tak ku kenal.
Kami berbonceng-boncengan menggunakan lima motor, aku berboncengan dengan Arga. Arga adalah satu-satunya orang yang ku kenal diantara mereka bersembilan. Arga adalah calon teman PPL dan KKN bulan Juli nanti. Tetapi, aku dan Arga pun baru bertemu tiga atau empat kali saja.
Di tengah-tengah perjalanan, kami diguyur hujan lebat. Akhirnya kami semua memakai jas hujan. Sepanjang perjalanan dari Jogja sampai Muntilan, hujan tak kunjung mereda. Kami tetap meneruskan perjalanan, dan hari pun semakin malam. Sekitar pukul 8 malam, kami sampai di Ketep. Tiba-tiba saja, ban motor yang dikendarai oleh Agung dan Rizky bocor. Ada pasutri yang lewat memberitahu kami bahwa di belakang ada tambal ban, kami semua balik lagi dan menemukan tambal ban.
Aku dan Arga tinggal di tempat tambal ban untuk mennemani Agung dan Rizky. Sedangkan yang lain melanjutkan perjalanan dan membeli makanan di minimarket yang masih buka. Setengah jam berlalu, ban pun sudah ditambal. Baru satu meter kami berempat melanjutkan perjalanan, gantian ban motor Arga yang bocor. Alhasil kami balik lagi ke bengkel dan menambalkan ban motor Arga.
Pukul 9 malam, setelah semua ban motor beres, kami melanjutkan perjalanan ke desa terakhir. Sampai di sana, kami beristirahat. Ada yang makan, minum, berbaring, dan mengeluarkan semua isi tas mereka. Aku bingung harus ngapain. Dan Azum menyuruhku mengeluarkan semua isi tasku. Setelah itu, aku berganti baju dan celana yang basah akibat hujan di sepanjang jalan. Kemudian aku tidur.
Sabtu, 29 Maret 2014, waktu menunjukkan pukul 5 pagi, tapi rasanya aku masih sangat enggan bangun, karena hawa sangat dingin. Teman-teman yang lain pun masih nyaman dalam tidurnya. Dody yang sudah sedari tadi bangun, mandi dan Sholat Subuh. Setelah hari semakin siang, kami semua bangun, ada yang sholat, ada yang mandi, ada juga yang merapikan barang-barang dan memasukkan ke dalam carier.
Pukul 7 pagi, kami sarapan. Setelah sarapan kami habis, kemudian kami menyiapkan semua barang yang akan kami bawa dalam perjalanan. Semua siap! Kami berdoa bersama agar perjalanan kami lancar dan kami selamat. Pukul 7.45 kami memulai perjalanan yang sesungguhnya, mendaki “GUNUNG MERBABU”. Ini adalah pendakian sebenarnya yang pertama bagiku, setelah sebelumnya aku mendaki ke Gunung Api Purba Nglanggeran, hehe.
Gambar 1. Sarapan
Gambar 2. Berdoa Bersama
Gambar 3. Berangkat melalui Jalur Selo
Aku berjalan dengan penuh semangat dan niat yang menggebu menuju gerbang masuk “JALUR SELO”. Perasaanku kali ini benar-benar campur aduk, rasa tak percaya, senang, bingung semua jadi satu. Tak percaya bahwa aku akan mendaki Gunung Merbabu, senang karena ini adalah pertama kalinya aku mendaki, dan bingung apa yang harus kulakukan nanti.
Di tengah-tengah perjalanan, tepatnya pendakian aku masih merasa canggung pada semua teman baruku. Tapi lama-lama suasana canggung itu mencair. Kami semua layaknya teman yang sudah lama akrab :). Aku mulai merasa nyaman bersama mereka semua.
Jalan awal pendakian masih tak begitu sulit. Banyak pepohonan besar yang kulewati. Pemandangan begitu indah. Udara begitu sejuk. Suasana tenang dan damai. Membuatku semakin betah di gunung.
Gambar 4. Avia, Azum dan Ily (aku)
Semakin tinggi, jalan semakin sulit. Tak jarang kami berhenti sejenak untuk minum atau sekedar mengistirahatkan kaki. Kami bersepuluh sepakat, capek bilang. Istirahat satu istirahat semua. Jangan malu kalo capek. Alhasil kami sering berhenti agar kami tetap bertahan sampai ke atas.
Gambar 5. Suasana istirahat
Di tengah-tengah perjalanan, (mungkin) setelah pos III (2590 mdpl), hujan turun. Kami semua memakai jas hujan kami. Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan sangat berhati-hati agar tak terpeleset. Hujan turun dengan lebatnya. Setelah pos III (Batu Tulis), jalan yang harus kami lewati sangat berat (bagiku) dan sangat licin karena hujan. Jalan naik amat terjal, hanya ada rerumputan dan pohon-pohon kecil. Terpeleset sedikit saja bisa-bisa terjatuh dan terperosok jauh ke bawah. Kami harus benar-benar hati-hati, berpegang kuat pada apa yang ada (rerumputan dan pohon kecil). Beberapa kali aku terpeleset hingga hampir jatuh. Tapi aku tetap berusaha menggapai dan berpegang kuat pada rerumputan. Aku juga dibantu oleh pendaki lain yang mungkin sedang turun gunung.
Perasaanku kala itu benar-benar takut. Rasanya hampir mati. Hujan lebat, dingin, jalan licin, lemas, itu yang kurasakan. Ingin rasanya aku menangis. Tapi dapat kutahan, karena teman-teman yang lain tetap saling memberi semangat dan bantuan. Aku terus berusaha sekuat tenaga agar sampai atas, ke tempat yang datar. Alhamdulillah perjuanganku berhasil. Aku selamat sampai atas :).
Sampai di pos IV, Sabana I (±2770 mdpl), kami beristirahat sejenak. Saat itu hujan sudah lumayan reda. Kami melepas jas hujan kami, duduk-duduk, dan makan roti. Kebetulan ada buah berry yang lumayan banyak di Sabana I. Aku dan teman-teman memetik berry kemudian memakannya.
Gambar 6. Suasana istirahat di Sabana I
Gambar 7. Buah Berry
Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang, kami segera melanjutkan perjalanan lagi. Hujan kembali mengguyur, terpaksa kami pun mengenakan jas hujan kami lagi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan sampai ke pos V yaitu Sabana II (±2860 mdpl).
Gambar 8. Sabana I-Sabana II
Gambar 9. Sampai Sabana II

Gambar 10. Sabana II
Pukul 1 siang sampai di Sabana II, dan hujan mereda. Kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda di sana. Total waktu dari basecamp sampai Sabana II adalah 4 jam 45 menit dikarenakan hujan. Kemudian, para cowok mendirikan tenda, sedangkan yang cewek memasak. Saat itu yang masak, aku sama Azum. Kita berdua masak air, nasi, dan mie instant. Tapi sepertinya aku dan Azum tak berpengalaman dalam hal masak-memasak hehe.
Gambar 11. Arga, Agung dan Rizky mendirikan tenda
Gambar 12. 3 Tenda kami
Setelah tiga tenda berdiri, kami memasukkan semua barang ke dalam tenda. Dua tenda untuk cowok dan satu tenda untuk cewek. Setelah semua barang masuk, kami makan dan minum. Seperti yang kubilang tadi, aku dan Azum tak berpengalaman dalam hal masak-memasak haha. Nasinya kurang air jadi masih kurang tanak. Tapi kami semua tetap makan. Setelah kenyang, kami tidur-tiduran di dalam tenda.
Pukul 3 sore, kami keluar tenda. Ada yang foto-foto, ada yang jalan-jalan, ada juga yang makan minum di tenda. Aku memilih jalan-jalan dan berfoto-foto. Aku hanya berjalan-jalan di dekat tenda saja karena udara sangat dingin. Lalu aku buang air kecil di balik bukit belakang tenda. Yah mau dimana lagi? Kan di gunung nggak ada toilet. Setelah buang air kecil, aku kembali jalan-jalan dan foto-foto. Pemandangan di Sabana II sangat indah, meski diselimuti kabut. Di sini kita dapat melihat Gunung Merapi.
Gambar 13. JJS di Sabana II

Gambar 14. Gunung Merapi di kejauhan
Di saat aku jalan-jalan menikmati pemandangan di Sabana II, banyak pendaki yang hilir mudik melewati Sabana II. Ada yang baru turun dari puncak, ada yang baru akan naik ke puncak, ada pula yang memilih mendirikan tenda di Sabana II seperti kami. Sambil menunggu sunset, aku melihat lalu lalang para pendaki lain di depan tendaku.
Gambar 15. Para pendaki yang menuju puncak
Angin semakin kencang. Udara semakin dingin menusuk hingga ke tulang. Kabut semakin tebal menyelimuti langit-langit Sabana II. Matahari tertutup kabut. Tapi sinarnya sebelum terbenam masih dapat terlihat meski hanya semburat-semburat.
Gambar 16. Sunset di Sabana II
Setelah hari benar-benar menjadi gelap, aku masuk ke dalam tenda. Sementara cowok-cowok memasak. Aku dan Azum sudah tak ingin berkutat dengan masak-memasak lagi haha. Aku menunggu matang saja di dalam tenda. Lalu setelah semua matang, kami makan dan minum di tenda masing-masing. Setelah makan, cewek-cewek berniat untuk langsung tidur. Sedangkan yang cowok-cowok masih ingin menyalakan api unggun.
Azum merasa tak enak badan. Mungkin dia masuk angin. Akhirnya aku membuatkan susu hangat untuk Azum. Dan aku pun menjadi tukang pijat dadakan untuk Azum. Setelah agak enakan, aku, Azum, Dian, dan Avia masuk ke SB masing-masing dan tidur.
Saat cowok-cowok sedang asik api unggunan, tiba-tiba hujan turun, mereka semua segera membereskan barang-barang yang berada di luar tenda dan membuat saluran air. Setelah itu, mereka semua masuk ke tenda. Udara semakin menusuk-nusuk tulang. Hujan dan badai di luar tenda tak kunjung reda. Semakin lama, tubuhku semakin merasa basah. Ternyata tenda cewek kebanjiran. Cewek-cewek pindah ke tenda cowok yang berada di atas. Kemudian saluran air dibenarkan dan tenda cewek digunakan oleh Arga dan Dody (kalau tidak salah).
Minggu, 30 Maret 2014, pukul 5 pagi, kami semua masih enggan keluar dari SB bahkan keluar dari tenda. Akhirnya kami hanya tidur-tiduran di tenda sambil cerita-cerita. Saat itu, baru tahu kalu ternyata Azum, Dian, dan Aan itu dari jurusan PGSD FIP UNY, dan 6 orang lainnya dari PJKR FIK UNY. Aku satu-satunya yang berasal dari jurusan PBD FBS UNY. Avia dari PJKR mengira aku jurusan PGSD. Sedangkan Azum dari PGSD mengira aku jurusan PJKR haha. Sekitar pukul 6 pagi, kami keluar dan berjalan-jalan ke atas bukit sambil berfoto-foto. Tapi kabut kembali naik dan cuaca semakin gelap. Kami kembali ke tenda dan sarapan roti.
Gambar 17. Di atas bukit Sabana II
Gambar 18. Tenda para pendaki di Sabana II

Gambar 19. Sarapan roti
Pukul 7 pagi, hujan dan badai kembali datang. Kami semua masuk ke tenda dan menutup tenda. Di dalam tenda aku, Azum, Dian dan Avia saling menghangatkan dan berdoa bersama sambil menjaga tenda agar tidak roboh. Di dalam tenda kami juga sempat merekam video keadaan kami di dalam tenda saat hujan dan badai. “Aku tak ingin dicintai seperti Montain Rain”, kata Dian dan Azum.
Sekitar satu jam lebih kami terkurung dalam tenda bersama hujan dan badai. Setelah hujan reda, kami berjalan-jalan dan berfoto-foto lagi di atas bukit Sabana II.
Gambar 20. Girlband? Haha
Saat itu, Agung ingin sekali melanjutkan perjalanan ke Puncak Merbabu. Tapi kami semua sudah tak ada gairah lagi, karena serangan badai sejak awal perjalanan. Alhasil, kami semua hanya sampai di Sabana II. Bagiku sudah sampai Sabana II saja aku sudah sangat senang, karena memang ini pendakian pertamaku.
Pukul 10 pagi, cowok-cowok memasak makanan untuk sarapan sekaligus makan siang. Makanan yang dimasak adalah mie instant dan sarden. Kami semua makan bersepuluh dalam satu tenda. Indahnya berbagi :D.
Gambar 21. Masak masak :D
Gambar 22. Mie instant dan Sarden
Pukul 11 siang, kami semua bersiap-siap pulang. Semua barang dimasukkan ke dalam carier masing-masing. Sampah dimasukkan ke dalam kantong kresek dan botol-botol ditali menjadi satu. Tenda dibongkar dan dilipat kembali. Dan yang terakhir adalah foto bersama. Pukul 12 siang kami mulai perjalanan pulang.
Gambar 23. Arga, Diki, Avia, Rizky, Aan, Ily (aku), Azum, Dian, dan Agung
Perjalanan pulang lebih mulus dari perjalan awal. Cuaca juga cerah ceria tanpa badai. Di sepanjang jalan, kami bertemu dengan banyak pendaki, mulai dari anak-anak hingga orang tua, pria sampai wanita. Dengan jalan santai, kami semua sampai di basecamp dengan selamat pada pukul 3 sore.
Gambar 24. Bukit Telletubies
Gambar 25. Pulang
Gambar 26. Naik gunung tetep harus trendy :D
Gambar 27. Rimba si anak gunung
Gambar 28. Entah apa motivasiku foto kaya gini haha
Gambar 29. Mungkin Diki dan Azum lelah :D
Pendakian pertama ke Merbabu yang sangat super. Cuaca yang super, temen yang super, alam yang super, dan tentunya pencipta-Nya lah yang paling super :). Terimakasih semuanya.

Gambar 30. Bunga Dandelion
Gambar 31. Bunga Edelweis

Gambar 32. See You Merbabu :*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar