CINTA PADA PENDAKIAN PERTAMA
Oleh: Laily Yuliati
Jumat, 28 Maret 2014, Sekitar pukul 3 sore aku sudah bersiap dengan
tas carier pinjaman lengkap dengan semua keperluanku. Aku pamit dengan ibuku,
ibuku pun kaget. Tetapi ibuku tetap mengijinkan aku berangkat. Aku pun
berangkat. Setelah menitipkan motor di kost Diah, aku dijemput oleh Acun.
Kemudian, aku menuju Mushola GOR UNY. Di sana sudah ada 3 orang yang sama
sekali tak ku kenal. Saat itu, perasaanku benar-benar susah dijelaskan.
Setengah jam kemudian, datang
lagi orang-orang yang lain yang sama halnya tak ku kenal. Dan tiba-tiba ada
salah seorang yang bertanya padaku (lupa) “temennya Nafi ya?” aku jawab “iya”.
Perasaanku sedikit lega, ternyata mereka adalah calon temanku dalam perjalanan
nanti. Kemudian, aku memberanikan diri berkenalan dengan mereka, Diki, Rizky,
Azum, Dian, dan Aan hehe. Ehm, sepertinya mereka baik :).
Waktu menunjukkan pukul 5 sore,
Arga (Nafi) datang bersama seorang teman lagi, Agung. Dan yang terakhir datang
adalah satu cowok dan satu cewek, Dody dan Avia berboncengan menggunakan motor
matic. Lengkap 10 orang sudah kita di sana. Dan katanya, sudah tak menunggu
siapa-siapa lagi.
Sebelum perjalanan dimulai, kami
bersepuluh, eh bersebelas dengan Acun berdoa bersama agar selamat sampai
tujuan. Dan kami pun siap untuk berangkat mengingat hari semakin sore dan cuaca
tak bersahabat. Acun tidak ikut dalam perjalanan itu, karena dia ada urusan di
UKM. Alhasil aku berangkat sendiri dengan 9 orang yang tak ku kenal.
Kami berbonceng-boncengan
menggunakan lima motor, aku berboncengan dengan Arga. Arga adalah satu-satunya
orang yang ku kenal diantara mereka bersembilan. Arga adalah calon teman PPL
dan KKN bulan Juli nanti. Tetapi, aku dan Arga pun baru bertemu tiga atau empat
kali saja.
Di tengah-tengah perjalanan,
kami diguyur hujan lebat. Akhirnya kami semua memakai jas hujan. Sepanjang
perjalanan dari Jogja sampai Muntilan, hujan tak kunjung mereda. Kami tetap
meneruskan perjalanan, dan hari pun semakin malam. Sekitar pukul 8 malam, kami
sampai di Ketep. Tiba-tiba saja, ban motor yang dikendarai oleh Agung dan Rizky
bocor. Ada pasutri yang lewat memberitahu kami bahwa di belakang ada tambal
ban, kami semua balik lagi dan menemukan tambal ban.
Aku dan Arga tinggal di tempat
tambal ban untuk mennemani Agung dan Rizky. Sedangkan yang lain melanjutkan
perjalanan dan membeli makanan di minimarket yang masih buka. Setengah jam
berlalu, ban pun sudah ditambal. Baru satu meter kami berempat melanjutkan
perjalanan, gantian ban motor Arga yang bocor. Alhasil kami balik lagi ke
bengkel dan menambalkan ban motor Arga.
Pukul 9 malam, setelah semua ban
motor beres, kami melanjutkan perjalanan ke desa terakhir. Sampai di sana, kami
beristirahat. Ada yang makan, minum, berbaring, dan mengeluarkan semua isi tas
mereka. Aku bingung harus ngapain. Dan Azum menyuruhku mengeluarkan semua isi
tasku. Setelah itu, aku berganti baju dan celana yang basah akibat hujan di
sepanjang jalan. Kemudian aku tidur.
Sabtu, 29 Maret 2014, waktu menunjukkan pukul 5 pagi, tapi rasanya
aku masih sangat enggan bangun, karena hawa sangat dingin. Teman-teman yang
lain pun masih nyaman dalam tidurnya. Dody yang sudah sedari tadi bangun, mandi
dan Sholat Subuh. Setelah hari semakin siang, kami semua bangun, ada yang
sholat, ada yang mandi, ada juga yang merapikan barang-barang dan memasukkan ke
dalam carier.
Pukul 7 pagi, kami sarapan.
Setelah sarapan kami habis, kemudian kami menyiapkan semua barang yang akan
kami bawa dalam perjalanan. Semua siap! Kami berdoa bersama agar perjalanan
kami lancar dan kami selamat. Pukul 7.45 kami memulai perjalanan yang
sesungguhnya, mendaki “GUNUNG MERBABU”. Ini adalah pendakian sebenarnya yang
pertama bagiku, setelah sebelumnya aku mendaki ke Gunung Api Purba Nglanggeran,
hehe.
| Gambar 1. Sarapan |
| Gambar 2. Berdoa Bersama |
| Gambar 3. Berangkat melalui Jalur Selo |
Aku berjalan dengan penuh
semangat dan niat yang menggebu menuju gerbang masuk “JALUR SELO”. Perasaanku
kali ini benar-benar campur aduk, rasa tak percaya, senang, bingung semua jadi
satu. Tak percaya bahwa aku akan mendaki Gunung Merbabu, senang karena ini
adalah pertama kalinya aku mendaki, dan bingung apa yang harus kulakukan nanti.
Di tengah-tengah perjalanan,
tepatnya pendakian aku masih merasa canggung pada semua teman baruku. Tapi
lama-lama suasana canggung itu mencair. Kami semua layaknya teman yang sudah
lama akrab :).
Aku mulai merasa nyaman bersama mereka semua.
Jalan awal pendakian masih tak
begitu sulit. Banyak pepohonan besar yang kulewati. Pemandangan begitu indah.
Udara begitu sejuk. Suasana tenang dan damai. Membuatku semakin betah di
gunung.
Gambar 4. Avia, Azum dan Ily (aku)
Semakin tinggi, jalan semakin
sulit. Tak jarang kami berhenti sejenak untuk minum atau sekedar
mengistirahatkan kaki. Kami bersepuluh sepakat, capek bilang. Istirahat satu
istirahat semua. Jangan malu kalo capek. Alhasil kami sering berhenti agar kami
tetap bertahan sampai ke atas.
![]() |
| Gambar 5. Suasana istirahat |
Di tengah-tengah perjalanan,
(mungkin) setelah pos III (2590 mdpl), hujan turun. Kami semua memakai jas hujan kami. Kami
tetap melanjutkan perjalanan dengan sangat berhati-hati agar tak terpeleset. Hujan turun dengan lebatnya. Setelah pos III (Batu Tulis), jalan yang harus kami lewati sangat berat (bagiku) dan sangat licin karena hujan. Jalan naik amat terjal, hanya ada rerumputan dan pohon-pohon kecil. Terpeleset sedikit saja bisa-bisa terjatuh dan terperosok jauh ke bawah. Kami harus benar-benar hati-hati, berpegang kuat pada apa yang ada (rerumputan dan pohon kecil). Beberapa kali aku terpeleset hingga hampir jatuh. Tapi aku tetap berusaha menggapai dan berpegang kuat pada rerumputan. Aku juga dibantu oleh pendaki lain yang mungkin sedang turun gunung.
Perasaanku kala itu benar-benar takut. Rasanya hampir mati. Hujan lebat, dingin, jalan licin, lemas, itu yang kurasakan. Ingin rasanya aku menangis. Tapi dapat kutahan, karena teman-teman yang lain tetap saling memberi semangat dan bantuan. Aku terus berusaha sekuat tenaga agar sampai atas, ke tempat yang datar. Alhamdulillah perjuanganku berhasil. Aku selamat sampai atas :).
Sampai di pos IV, Sabana I (±2770 mdpl), kami beristirahat sejenak. Saat itu hujan sudah lumayan reda. Kami melepas jas hujan kami, duduk-duduk, dan makan roti. Kebetulan ada buah berry yang lumayan banyak di Sabana I. Aku dan teman-teman memetik berry kemudian memakannya.
Perasaanku kala itu benar-benar takut. Rasanya hampir mati. Hujan lebat, dingin, jalan licin, lemas, itu yang kurasakan. Ingin rasanya aku menangis. Tapi dapat kutahan, karena teman-teman yang lain tetap saling memberi semangat dan bantuan. Aku terus berusaha sekuat tenaga agar sampai atas, ke tempat yang datar. Alhamdulillah perjuanganku berhasil. Aku selamat sampai atas :).
Sampai di pos IV, Sabana I (±2770 mdpl), kami beristirahat sejenak. Saat itu hujan sudah lumayan reda. Kami melepas jas hujan kami, duduk-duduk, dan makan roti. Kebetulan ada buah berry yang lumayan banyak di Sabana I. Aku dan teman-teman memetik berry kemudian memakannya.
| Gambar 6. Suasana istirahat di Sabana I |
| Gambar 7. Buah Berry |
Waktu menunjukkan pukul 12.30
siang, kami segera melanjutkan perjalanan lagi. Hujan kembali mengguyur, terpaksa
kami pun mengenakan jas hujan kami lagi. Kemudian kami
melanjutkan perjalanan sampai ke pos V yaitu Sabana II (±2860 mdpl).
| Gambar 8. Sabana I-Sabana II |
![]() |
| Gambar 9. Sampai Sabana II |
| Gambar 10. Sabana II |
| Gambar 11. Arga, Agung dan Rizky mendirikan tenda |
![]() |
| Gambar 12. 3 Tenda kami |
Setelah tiga tenda berdiri, kami
memasukkan semua barang ke dalam tenda. Dua tenda untuk cowok dan satu tenda
untuk cewek. Setelah semua barang masuk, kami makan dan minum. Seperti yang
kubilang tadi, aku dan Azum tak berpengalaman dalam hal masak-memasak haha.
Nasinya kurang air jadi masih kurang tanak. Tapi kami semua tetap makan.
Setelah kenyang, kami tidur-tiduran di dalam tenda.
Pukul 3 sore, kami keluar tenda.
Ada yang foto-foto, ada yang jalan-jalan, ada juga yang makan minum di tenda.
Aku memilih jalan-jalan dan berfoto-foto. Aku hanya berjalan-jalan di dekat
tenda saja karena udara sangat dingin. Lalu aku buang air kecil di balik bukit
belakang tenda. Yah mau dimana lagi? Kan di gunung nggak ada toilet. Setelah
buang air kecil, aku kembali jalan-jalan dan foto-foto. Pemandangan di Sabana
II sangat indah, meski diselimuti kabut. Di sini kita dapat melihat Gunung
Merapi.
![]() |
| Gambar 13. JJS di Sabana II |
![]() |
| Gambar 14. Gunung Merapi di kejauhan |
Di saat aku jalan-jalan
menikmati pemandangan di Sabana II, banyak pendaki yang hilir mudik melewati
Sabana II. Ada yang baru turun dari puncak, ada yang baru akan naik ke puncak,
ada pula yang memilih mendirikan tenda di Sabana II seperti kami. Sambil
menunggu sunset, aku melihat lalu lalang para pendaki lain di depan tendaku.
![]() |
| Gambar 15. Para pendaki yang menuju puncak |
Angin semakin kencang. Udara
semakin dingin menusuk hingga ke tulang. Kabut semakin tebal menyelimuti
langit-langit Sabana II. Matahari tertutup kabut. Tapi sinarnya sebelum
terbenam masih dapat terlihat meski hanya semburat-semburat.
Gambar 16. Sunset di Sabana II
Setelah hari benar-benar menjadi
gelap, aku masuk ke dalam tenda. Sementara cowok-cowok memasak. Aku dan Azum
sudah tak ingin berkutat dengan masak-memasak lagi haha. Aku menunggu matang
saja di dalam tenda. Lalu setelah semua matang, kami makan dan minum di tenda
masing-masing. Setelah makan, cewek-cewek berniat untuk langsung tidur.
Sedangkan yang cowok-cowok masih ingin menyalakan api unggun.
Azum merasa tak enak badan.
Mungkin dia masuk angin. Akhirnya aku membuatkan susu hangat untuk Azum. Dan
aku pun menjadi tukang pijat dadakan untuk Azum. Setelah agak enakan, aku,
Azum, Dian, dan Avia masuk ke SB masing-masing dan tidur.
Saat cowok-cowok sedang asik api
unggunan, tiba-tiba hujan turun, mereka semua segera membereskan barang-barang
yang berada di luar tenda dan membuat saluran air. Setelah itu, mereka semua
masuk ke tenda. Udara semakin menusuk-nusuk tulang. Hujan dan badai di luar
tenda tak kunjung reda. Semakin lama, tubuhku semakin merasa basah. Ternyata
tenda cewek kebanjiran. Cewek-cewek pindah ke tenda cowok yang berada di atas.
Kemudian saluran air dibenarkan dan tenda cewek digunakan oleh Arga dan Dody
(kalau tidak salah).
Minggu, 30 Maret 2014, pukul 5 pagi, kami semua masih enggan keluar
dari SB bahkan keluar dari tenda. Akhirnya kami hanya tidur-tiduran di tenda
sambil cerita-cerita. Saat itu, baru tahu kalu ternyata Azum, Dian, dan Aan itu
dari jurusan PGSD FIP UNY, dan 6 orang lainnya dari PJKR FIK UNY. Aku
satu-satunya yang berasal dari jurusan PBD FBS UNY. Avia dari PJKR mengira aku
jurusan PGSD. Sedangkan Azum dari PGSD mengira aku jurusan PJKR haha. Sekitar
pukul 6 pagi, kami keluar dan berjalan-jalan ke atas bukit sambil berfoto-foto.
Tapi kabut kembali naik dan cuaca semakin gelap. Kami kembali ke tenda dan
sarapan roti.
| Gambar 17. Di atas bukit Sabana II |
| Gambar 18. Tenda para pendaki di Sabana II |
| Gambar 19. Sarapan roti |
Pukul 7 pagi, hujan dan badai
kembali datang. Kami semua masuk ke tenda dan menutup tenda. Di dalam tenda
aku, Azum, Dian dan Avia saling menghangatkan dan berdoa bersama sambil menjaga
tenda agar tidak roboh. Di dalam tenda kami juga sempat merekam video keadaan
kami di dalam tenda saat hujan dan badai. “Aku tak ingin dicintai seperti Montain
Rain”, kata Dian dan Azum.
Sekitar satu jam lebih kami
terkurung dalam tenda bersama hujan dan badai. Setelah hujan reda, kami
berjalan-jalan dan berfoto-foto lagi di atas bukit Sabana II.
| Gambar 20. Girlband? Haha |
Saat itu, Agung ingin sekali
melanjutkan perjalanan ke Puncak Merbabu. Tapi kami semua sudah tak ada gairah
lagi, karena serangan badai sejak awal perjalanan. Alhasil, kami semua hanya
sampai di Sabana II. Bagiku sudah sampai Sabana II saja aku sudah sangat senang,
karena memang ini pendakian pertamaku.
Pukul 10 pagi, cowok-cowok
memasak makanan untuk sarapan sekaligus makan siang. Makanan yang dimasak
adalah mie instant dan sarden. Kami semua makan bersepuluh dalam satu tenda.
Indahnya berbagi :D.
![]() |
| Gambar 21. Masak masak :D |
| Gambar 22. Mie instant dan Sarden |
Pukul 11 siang, kami semua
bersiap-siap pulang. Semua barang dimasukkan ke dalam carier masing-masing.
Sampah dimasukkan ke dalam kantong kresek dan botol-botol ditali menjadi satu.
Tenda dibongkar dan dilipat kembali. Dan yang terakhir adalah foto bersama.
Pukul 12 siang kami mulai perjalanan pulang.
| Gambar 23. Arga, Diki, Avia, Rizky, Aan, Ily (aku), Azum, Dian, dan Agung |
Perjalanan pulang lebih mulus
dari perjalan awal. Cuaca juga cerah ceria tanpa badai. Di sepanjang jalan,
kami bertemu dengan banyak pendaki, mulai dari anak-anak hingga orang tua, pria
sampai wanita. Dengan jalan santai, kami semua sampai di basecamp dengan
selamat pada pukul 3 sore.
![]() |
| Gambar 24. Bukit Telletubies |
| Gambar 25. Pulang |
![]() |
| Gambar 26. Naik gunung tetep harus trendy :D |
![]() |
| Gambar 27. Rimba si anak gunung |
Gambar 28. Entah apa motivasiku foto
kaya gini haha
Gambar 29. Mungkin Diki dan Azum lelah
:D
Pendakian pertama ke Merbabu
yang sangat super. Cuaca yang super, temen yang super, alam yang super, dan
tentunya pencipta-Nya lah yang paling super :). Terimakasih semuanya.
| Gambar 30. Bunga Dandelion |
| Gambar 31. Bunga Edelweis |
![]() |
| Gambar 32. See You Merbabu :* |











